(اِنَّ نَا شِئَةَ ا لّيْلِ هِيَ اَشَّدُ وَطْئًا وَ اَقْوَ مُ قِيْلًا (٦
(اِنَّ لَكَ فِي انَّهَا رِ سَبْحًا طَوِ يْلًا (٧
(وَا ذْ كُرِ ا سْمَ رَبِّكَ وَ تَبَتَّلْ اِلَيْهِ تَبْتِيْلًا (٨
(رَبُّ الْمَشْرِ قِ وَالْمَغْرِ بِ لَآ اِلهَ اِ لَّا هُوَ فَا تَّخِذْهُ وَكِيْلًا (٩

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di   waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. (Dia-lah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka  ambillah Dia sebagai Pelindung.”
(QS. Al-Muzzammil 6-9)

Ayat 6

اِنَّ نَا شِئَةَ ا لّيْلِ هِيَ اَشَّدُ وَطْئًا وَ اَقْوَ مُ قِيْلًا
“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan”

       Ungkapan “Malam Bercermin Kitab Suci, Siang Bertongkat Tombak Besi” adalah ungkapan Buya Hamka ketika menguraikan gerakan Syanusiyah di Libya atau Tripoli. Guna menggambarkan suatu gerakan tasawuf yang tidak hanya asyik berzikir semata, tetapi berjuang mempertahankan tiap jengkal tanah Libya dari cengkeraman penjajah. Gerakan Syanusiah ialah suatu gerakan agama yang tegak di atas reruntuhan sebuah Kerajaan Islam Turki Karab-Manelli yang telah runtuh. Disusunnya setiap wahab di padang pasir, setiap masyarakat suku, diajarnya agama, dibuatnya jamaah, diajar anak-anak hakikat Islam, dilatih yang tua-tua berzikir mengingat Allah dan dilatih pula pemuda-pemuda memegang senjata. Bertasawuf, tetapi harus sanggup berjuang di tengah masyarakat. Malam bercermin kitab suci, siang bertongkat tombak besi.

Gambaran tersebut hendak menunjukkan betapa bangun tengah malam dan shalat malam itu membangkitkan  kekuatan jiwa yang sangat dahsyat untuk berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan di siang hari. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat. Karena secara spiritual bangun pada malam hari itu, menurut sebuah hadits Qudsi tersebut diterima dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhori, Muslim, Malik, at-Tirmidzi, dan Abu Daud, katanya: “Tuhan kita Yang Mahasuci lagi Mahaagung, setiap malam ‘turun’ ke langit dunia, yakni ketika malam tinggal sepertiganya yang terakhir. Ketika itu Dia Berfirman: ‘Siapa yang ingin berdo’a kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan untuknya. Siapa yang ingin bermohon kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan permintaannya. Siapa yang akan memohon ampunan-Ku, niscaya akan Aku ampuni.

Di samping shalat malam, juga dianjurkan membaca kitab suci al-Qur’an, dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Membaca al-Qur’an dengan penuh ketenangan dan bacaan yang perlahan, tidak terburu-buru. Membaca dengan meresapkan makna-makna yang terkandung di dalam ayat-ayat yang dibaca itu. Merasakan suasana ketenangan ruhani dengan keindahan lantunan ayat-ayat suci yang menyentuh tali temali rasa yang membacanya.

 

Ayat 7

اِنَّ لَكَ فِي انَّهَا رِ سَبْحًا طَوِ يْلًا
Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjan (banyak)

       Sesudah menangkap kekuatan ruhani pada malam harinya dengan shalat malam dan bercermin kitab suci, maka pada siang harinya harus menyingsingkan lengan baju, bekerja dan berjuang dengan sungguh-sungguh menegakkan kebenaran dan keadilan. Sesungguhnya kamu, wahai Muhammad, pada siang hari sesudah malam harinya shalat malam dan membaca al-Qur’an, mempunyai urusan yng panjang (banyak) untuk melepaskan kaum dan kerabatmu dari penyembahan berhala.

Siang hari adalah waktu untuk bekerja dalam kehidupan. Pada siang hari seseorang menggenapkan kewajiban dan tanggung jawab, baik sebagai individu, maupun sebagai bagian dari masyarakat. Oleh sebab itu, pada siang hari manusia dikatakan mempunyai urusan yang panjang dan banyak, sebab pada siang hari itulah mengusahakan dan mendapatkan kebutuhan.

 

Ayat 8

وَا ذْ كُرِ ا سْمَ رَبِّكَ وَ تَبَتَّلْ اِلَيْهِ تَبْتِيْلًا
Sebutlan nama Tuhanmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan

      Juga berzikir menyebut nama Allah dengan penuh tawadhu secara perlahan dan berbisik. Sembilan puluh sembilan nama Allah yang terhimpun dalam al-Asma al-Husna hendaknya menjadi akrab pada lidah. Sebutlah nama Tuhanmu. Dengan melapalkan nama-nama Allah yang terdapat dalam al-Asma al-Husna hati menjadi tentram.

Beribadah dan berzikirlah dengan sepenuh hati, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. Berupaya dengan sungguh-sungguh berkonsentrasi kepada Allah swt. Suasana tengah malam adalah suasana yang sangat kondusif untuk berkonsentrasi. Suasananya adalah suasana hening dan bening, tanpa hiruk pikuk kehidupan siang.

Haqiqat al-ibadah ma ba’da al-ibadah (Hakikat ibadah adalah sesudah beribadah), adalah penegasan bahwa ibadah bukan hanya sebatas ritual. Tetapi ibadah yang sesungguhnya adalah kegiatan sesudah ibadah ritual yang harus diteruskan dalam kondisi tidak dalam ibadah ritual, yakni dalam kegiatan sehari-hari sebagai aktivitas dunia. Oleh sebab itu, apa pun bentuk aktivitas yang dilakukan haruslah dikaitkan dengan usaha untuk mendapat keridhaan Allah.

 

Ayat 9

رَبُّ الْمَشْرِ قِ وَالْمَغْرِ بِ لَآ اِلهَ اِ لَّا هُوَ فَا تَّخِذْهُ وَكِيْلًا
“(Dia-lah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai Pelindung”

       Allah adalah pemilik timur dan barat, yang menerbitkan matahari di timur dan menenggalamkan matahari di barat. Dialah pemilik alam semesta dan dalam genggaman-Nya kehidupan ditentukan. (Dia-lah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah). Hanya Dialah Tuhan yang layak disembah dan kepada Dia saja satu-satunya tempat untuk meminta pertolongan. Tiada daya dan upaya kecuali ada dalam genggaman-Nya.

Oleh sebab itu, berserah dirilah kepada-Nya dengan sepenuh hati dan setulus-tulusnya. Jadikanlah Allah swt sebagai pelindung dalam menjalani kehidupan di dunia. Maka ambillah Dia sebagai Pelindung. Serahkanlah segala urusan hanya kepada Allah yag Mahakuasa dan Maha Perkasa. Jangan jadikan-Nya serikat dengan sesuatu apa pun.

Kebesaran  jiwa dan ketenangan  pikiran akan didapat, bila Allah sudah dijadikan sandaran dan pelindung. Semua yang selain Dia menjadi kecil dan tidak ada arti. Di saat itu perjuangan akan terasa, tanpa beban yang berat. Melangkah dengan pasti dan penuh optimisme yang tinggi. Apalagi tugas tanpa target. Tidak ada kewajiban untuk mencapai hasil, sebab keimanan seseorang adalah urusan Allah. Tugas utama adalah melaksanakan tugas itu sendiri, sebagai manifestasi ibadah dengan penuh keikhlasan.

 

Pokok-pokok kandungan surah al-Muzammil adalah meliputi:

Tuntunan dalam rangka membangun ketahanan jiwa menghadapi berbagai cobaan dan rintangan dalam perjuangan menegakkan kalimat tauhid serta menyerukan dakwah, agar bangun tengah malam untuk shalat dan membaca al-Qur’an. Shalat malam mengandung kekuatan dahsyat untuk mengangkat beban perjuangan yang sangat berat, sehingga Nabi sendiri seakan mewajibkan shalat malam bagi kaum Muslim agar beroleh kekuatan jiwa yang dahsyat itu.

Tujuan utama surah ini adalah bimbingan kepada Nabi Muhammad saw dan juga umat islam agar menyiapkan mental untuk melaksanakan tugas penyampaian risalah dengan segala rintangannya, sekaligus ancaman kepada para pengingkar kebenaran. Surah ini juga bertujuan mengingatkan bahwa amal-amal kebajikan menapikan rasa takut dan menolak marabahaya, serta meringankan beban, khususnya bila amal kebajikan itu berupa kehadiran kepada Allah serta berkonsentrasi mengabdi kepada-Nya pada kegelapan malam.

 

Penulis: Nana Andriana (Tafsir Hadits 2015-UIN Jakarta, Haiah Tahfizh)
Pengoreksi: Ustzh. Siti Husniah Rahmawati, S.Th.I (Tafsir Hadits 2010-UIN Jakarta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *