(وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا (٢٩
(بَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا (٣٠

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan (pula) kamu terlalu mengulurkannya (sangat pemurah) nanti kamu menjadi tercela dan menyesal. Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rizki kepada siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki); sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat hamba-hamba-Nya.”
(QS. al-Israa’(17): 29-30)

 

Ayat di atas ditafsirkan oleh Ibnu `Abbas, al-Hasan, Qatadah, Ibnu juraij, Ibnu Zaid dan lain-lain, bahwa yang dimaksudkan di sini adalah sifat kikir dan sifat berlebih-lebihan. Dalam ayat ini Allah berfirman sekaligus memerintahkan untuk berlaku sederhana dalam menjalani hidup, yaitu tidak kikir ataupun berlebih-lebihan dalam memberi.

Walaa taj’al yadaka maghluulatan ilaa ‘unuqika (Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelengggu pada lehermu.)
Maksudnya, janganlah kamu kikir dan bakhil, tidak pernah memberikan sesuatu pun kepada seseorang.

Dan firman-Nya: walaa tabshuth-haa kullal bashthi (Dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya.)
Maksudnya, janganlah kamu berlebihan dalam berinfak, di mana kamu memberi di luar kemampuanmu dan mengeluarkan pengeluaran yang lebih banyak daripada pemasukan. Karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa maksud ayat ini adalah jika kamu kikir, niscaya kamu akan menjadi tercela, yaitu mendapat celaan dan hinaan dari orang-orang, tidak akan dihargai, serta mereka tidak akan memerlukanmu lagi. Bila kamu mengulurkan tanganmu di luar kemampuanmu, maka kamu akan hidup tanpa sesuatu apapun yang dapat kamu nafkahkan, sehingga kamu menjadi seperti hasir, yaitu binatang yang sudah tidak mampu berjalan, yang berhenti, lemah dan tiada daya.

Allah memerintahkan hamba-Nya untuk menginfakkan sebagian rizki yang telah Dia berikan sebagai bentuk rasa syukur dan kepedulian terhadap sesama. Namun yang Allah maksud di sini adalah memberi dengan kadar yang sewajarnya; tidak sedikit dan  tidak terlalu banyak. Karena kedua-duanya merupakan sifat yang tercela. Jika sedikit, maka kita tergolong orang-orang yang kikir dan pelit. Tapi jika terlalu banyak, maka kelak kita akan menyesal.

Rasulullah saw. menganjurkan untuk mengeluarkan sedekah paling banyak sepertiga (1/3) dari harta yang kita miliki. Karena akan lebih baik jika digunakan untuk memberi nafkah ataupun diwariskan kepada anak-anak kita kelak. Selanjutnya Rasulullah pun melarang umatnya untuk kikir dalam memberi, bahkan menghitung-hitung pemberiannya. Karena sesungguhnya Allah yang Maha Pemberi pun tidak pernah menghitung-hitung rizki yang Dia berikan pada hamba-Nya. Sekiranya Allah menghendaki itu, maka pasti ada hikmah di dalamnya. Sebagaimana firman-Nya pada ayat selanjutnya:

Inna rabbaka yabsuthur rizqa limay yasyaa-u wa yaqdiru (Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rizki kepada siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (kepada yang Dia kehendaki.)
Hal itu sebagai pemberitahuan bahwa Dia adalah sang Pemberi rizki, Pengambil rizki, Penyalur rizki, serta pengendali segala urusan makhluk-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Dengan demikian, Dia akan menjadikan kaya siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan akan menjadikan miskin siapa saja yang dikehendaki-Nya. Karena yang demikian itu terdapat hikmah.

Oleh karena itu, Dia kemudian berfirman: innahuu kaana bi-‘ibaadihii khabiiram bashiiran (Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.)
Yakni, Maha Melihat siapa orang yang berhak memperoleh kekayaan dan siapa juga orang-orang yang layak hidup miskin.

Allah memerintahkan kita untuk menginfakkan harta yang kita dapat, namun Allah juga melarang kita untuk mengeluarkannya diluar batas kemampuan. Bersikaplah di pertengahan (Mutawasith) tidak berlebihan dan tidak kikir.

 

Penulis: Rifda Shabrina (Pendidikan Agama Islam 2014-UIN Jakarta, Haiah Tahfizh)
Pengoreksi: Ustzh. Siti Husniah Rahmawati, S.Th.I. (Tafsir Hadits 2010-UIN Jakarta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *