Tafsir Ibnu Katsir Surat Yunus Ayat 1-3

  1. Alif, laam, raa[741]. ini adalah ayat-ayat kitab (Al Quran) yang nyata (dari Allah).
  2. Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.
  3. Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan Sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukan) nya adalah Termasuk orang-orang yang belum mengetahui.

Alif-lam-ra merupakan salah satu bukti kemukjizatan al-Quran. Karena di sebagian besar surat-surat yang diawali dengan huruf seperti ini, ayat-ayat berikutnya berbicara tentang kemukjizatan dan keagungan al-Quran. Artinya, bahwa Allah Swt telah menurunkan mukjizat berupa al-Quran yang terdiri dari huruf-huruf yang juga digunakan oleh semua orang. Al-Quran juga menantang dengan mengatakan bahwa jika kalian menuduhbahwaal-Quran ini ciptaan manusia, maka seharusnya kalian mampu pula menciptakan kitab yang sama seperti al-Quran dengan menggunakan huruf-huruf ini.

inna AnzalnaaHu qur-aanan ‘arabiyyal la’allakum ta’qiluun”  Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia menurunkan Al-Quran dalam bahasa Arab yang fasih agar dapat direnungkan dan dipikirkan semua isi dan maknanya. Memang Alquran diturunkan untuk semua manusia, bahkan juga untuk jin tetapi karena yang pertama-tama menerimanya ialah penduduk Mekah, maka wajarlah bila firman itu ditujukan lebih dahulu kepada mereka dan seterusnya berlaku untuk semua umat manusia. Pertama-tama Allah menuntut perhatian orang-orang Quraisy dan orang-orang Arab seluruhnya supaya mereka memperhatikan isinya dengan sebaik-baiknya karena di dalamnya terkandung bermacam-macam ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi mereka di dunia dan akhirat seperti hukum-hukum agama, kisah nabi-nabi dan Rasul-rasul, hal-hal yang bertalian dengan pembangunan masyarakat, pokok-pokok kemakmuran, akhlak, filsafat, tata cara berpolitik baik yang bersifat nasional maupun yang bersifat internasional dan lain sebagainya. Semuanya itu diutarakan dalam bahasa Arab yang indah susunannya mudah dipahami oleh mereka.

Dalam tafsiran yang lain Ibnu katsir berkata ketika menafsirkan surat Yusuf ayat 2 di atas: “Yang demikian itu (bahwa Al –Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab) karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, jelas, luas, dan maknanya lebih mengena lagi cocok untuk jiwa manusia. Oleh karena itu kitab yang paling mulia (yaitu Al-Qur’an) diturunkan kepada rosul yang paling mulia (yaitu: Rosulullah), dengan bahasa yang termulia (yaitu Bahasa Arab), melalui perantara malaikat yang paling mulia (yaitu malaikat Jibril), ditambah kitab ini pun diturunkan pada dataran yang paling mulia diatas muka bumi (yaitu tanah Arab), serta awal turunnya pun pada bulan yang paling mulia (yaitu Romadhan), sehingga Al-Quran menjadi sempurna dari segala sisi.” (Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir surat Yusuf).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Berkata: “Sesungguhnya ketika Allah menurunkan kitab-Nya dan menjadikan Rasul-Nya sebagai penyampai risalah (Al-Kitab) dan Al-Hikmah (As-sunnah), serta menjadikan generasi awal agama ini berkomunikasi dengan bahasa Arab, maka tidak ada jalan lain dalam memahami dan mengetahui ajaran Islam kecuali dengan bahasa Arab. Oleh karena itu memahami bahasa Arab merupakan bagian dari agama. Keterbiasaan berkomunikasi dengan bahasa Arab mempermudah kaum muslimin memahami agama Allah dan menegakkan syi’ar-syi’ar agama ini, serta memudahkan dalam mencontoh generasi awal dari kaum Muhajirin dan Anshar dalam keseluruhan perkara mereka.” (IqtidhoShirotil Mustaqim).

Dengan demikian Al-qur’an itu sempurna dari segala-galanya. Maka Allah berfirman :”nahnu naqush-shu ‘alaika ahsanal qasha-shi bimaa auhainaaa ilaika hadza lqur-ana…………….”.

Dalam ayat ini Allah Swt berkata kepada Nabi-Nya, “Kami yang mewahyukan al-Quran kepadamu, kemudian menceritakan kepadamu kisah kaum da n bangsa-bangsa terdahulu dengan bentuk sebaik-baik bahasa, dan itu semua merupakan bagian dari wahyu samawi dan merupakan kitab al-Quran. Pada dasarnya,cerita dan kisah memiliki peran penting dalam pendidikan manusia.Khususnya apabila kisah dan cerita itu berbicara tentang realitas kehidupan kaum dan bangsa-bangsa terdahulu, dan orang yang mendengarkannya meyakini bahwa kisah tersebut bukan karangan dan hasil daya khayal manusia.”

Sesungguhnya, keistimewaan terpenting kisah-kisah al-Quran terletak pada kebenarannya. Hal ini telah dibahas dari segala seginya, sebagai sebuah sejarah, dan menjadi perhatian besar di pusat-pusat pendidikan tinggi dan lembaga-lembaga ilmiyah. Imam Ali bin Abi Thalib as dalam sebuah surat kepada putranya Imam Hasan al-Mujtaba as menulis sebagai berikut, “Putraku! Aku sedemikian larut dalam menelaah kisah orang-orang terdahulu, seakan aku ikut hidup bersama mereka dan menempuh usia sepanjang hidup mereka itu.”

Kedudukan sejarah dalam al-Quran sedemikian tingginya, sehingga dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa salah satu nama kitab suci samawi ini ialahkisah terbaik (Ahsan al-Qashash) sebagaimana terdapat dalam ayat ini. Yang lebih penting lagi ialah bahwa dalam ayat ini, Allah Swt sendiri menyebut Zat-Nya sebagai penyampai kisah dan penukil cerita, yang mengisahkan sejarah hidup Nabi Yusuf as kepada Rasul-Nya, dan menjadikannya sebagai bagian dari kitab suci al-Quran ini. Jika dalam ayat ini kisah Nabi Yusuf disebut sebagai sebaik-baik kisah, adalah karena pemeran utama kisah ini adalah seorang pemuda yang seluruh wujudnya dipenuhi dengan kebersihan, kesucian, keteguhan memegang amanat, penyabar dan beriman sempurna.

Topik utama kisah tersebut adalah, bahwa di puncak masa mudanya, Nabi Yusuf as berjuang dan pada akhirnya, berhasil menundukkan hawa nafsunya. Dalam kisah ini telah terkumpul sejumlah hal yang saling berlawanan dan kontradiktif. Diantaranya,perpisahan dan pertemuan,kesedihan dan kegembiraan,masa paceklik dan masa subur,pengkhianatan dan kesetiaan,perbudakan dan kebangsawanandankebersihan dan ketertuduhan. Di dalam ayat ini disebutkan bahwa Rasul Allah Saw termasuk diantara orang-orang yang lalai. Akan tetapi yang dimaksud dengan kelalaian tersebut ialah ketidaktahuan. Sedangkan ketidaktahuan yang negatif ialah ketidaktahuan yang muncul, sementara peluang-peluang untuk mengetahui, sudah terpenuhi baginya. Sedangkan Rasul Allah tidak mengetahui sejarah Nabi Yusuf as, karena beliau tidak memiliki sarana untuk mengetahuinya.

Dengan demikian, sebagaimana dikenal dalam pembahasan Islam, terdapat dua macam ketidaktahuan atau kejahilan. Pertama, jahil qashir dan yang kedua jahil muqasshirJahil qashir ialah ketidaktahuan akan sesuatu, karena tidak adanya sarana atau peluang untuk mengetahui sesuatu tersebut. Ketidaktahun seperti ini tidak dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Sedangkan jahil muqasshir ialah ketidaktahuan akan sesuatu, sedangkan semua peluang untuk mengetahui sesuatu tersebut telah tersedia; atau seseorang sudah mengetahui sesuatu, kemudian ia lupa. Ketidaktahuan seperti ini bersifat negatif dan jelek. Jadi, ketidaktahuan Rasul Allah Saw akan sejarah hidup Nabi Yusuf as, adalah bukan sesuatu yang jelek bagi beliau, karena beliau tidak memiliki sarana apa pun untuk mengetahui sejarah tersebut, maka sudah wajar jika beliau tidak mengetahuinya.

Disebutkan bahwa Asbabun Nuzul ayat ini adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh ibnu jarir dari ibnu ‘Abbas mengatakan, mereka (para sahabat) berkata kepada Rasulullah “wahai Rasulullah kami mohon engkau bercerita kepada kami” maka turnlah ayat “:”nahnu naqush-shu ‘alaika haadza lqur-aana”.  Dia juga meriwayatkan dari mush’ab bin sa’ad, dari ayahnya dia berkata : “Al-qur-an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, maka dibacakan kepada mereka beberapa waktu lamanya . kemudian mereka berkata kepada beliau, “ya Rasulullah sekiranya engkau bercerita kepada kami? Maka Allah menurunkan ayat pertama dan kedua yang terdapat dalam surat ini. Maka dibacakanlah oleh beliau kepada mereka beberapa waktu lamanya. Kemudian Allah menurunkan ayat : “Allaahu nazzala ahsanal hadiits”…

Al-hakim meriwayatkan dalam hadits serupa. Dari ishaq bin rahwaih dari ‘amr bin Muhammad al-quraisyi al-manqari. Ibnu jarir juga meriwayatkan dengan sanadnya dari al-mas’udi dari ‘aun bin Abdullah ia berkata “setelah para sahabat Rasulullah saw, mereka bosan, maka mereka berkata ‘wahai Rasulullah, tuturkanlah kepada kami sebuah hadits’ kemudian Allah menurunkan “Allaahu nazzala ahsanal hadiits”…

Kemudian mereka kembali bosan dan memohon agar  Rasulullah menuturkan apa yang lebih tinggi daripada hadits tetapi  dibawah Al-qur’an, yang mereka maksudkan adalah kisah-kisah. Maka Allah menurunkan; “Alif laam raa. Tilka aayaatul kitaabil mubiin. Inna anzalnaaHu qur-aanan ‘arabiyyal la’allakum ta’qiluun. Nahnu naqush-shu ‘alaika ahsanal qashashi”

 

Ibnu Abbas mengatakan: ”Mimpi para Nabi itu merupkaan wahyu.” Para ulama tafsir telah membicarakan ta’bir (penafsiran) mimpi yusuf itu, bahwa sebelas bintang menunjukan saudara-saudaranya yang berjumlah  tepat sebelas orang laki-laki, sedang matahari dan bulan menunjukan ibu dan bapaknya, sebagaimana hal ini diriwayatkan dari ibnu ‘Abbas, adh-dhahhak, qatadah, sufyan ats-Tsauri dan ‘Abdurrahman bin zaid bin aslam.

Tafsir dari mimpi Yusuf tersebut menjadi kenyataan empat puluh tahun kemudian. Ada pula yang mengatakan, delapan puluh tahun kemudian. Allah berfirman, mengabarkan apa yang dikatakan oleh Ya’qub kepada putranya Yusuf, ketika ia menceritakan apa yang dilihatnya dalam mimpi yang ta’birnya tentang tunduknya saudara-saudara Yusuf, dan pengagungan mereka kepadanya secara berlebihan, dimana mereka bersujud untuk mengagungkan, menghormati dan memuliakannya. Maka Ya’qubas. khawatir kalau mimpi itu diceritakannya kepada salah seorang saudaranya yang akan membuat mereka merasa dengki kepadanya, serta berusaha mencelakakannya karena kedengkian tersebut. Oleh karena itu, ia mengatakan: laataqshushru’yaaka ‘alaaikhwatikafayakiiduulakakaidan (“Janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka akan membuat makar terhadapmu.”) yaitu dengan memperdayaimu.

Karena itu dinyatakan di dalam hadits, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian melihat sesuatu hal yang menyenangkan dalam mimpi, maka ceritakanlah hal itu. Dan bila melihat apa yang dibencinya dalam mimpi, maka berbaliklah ke sisi yang lain dan meludahlah ke sebelah kiri tiga kali, lalu memohonlah perlindungan kepada Allah dari kejahatannya dan janganlah menceritakannya kepada orang lain, karena mimpi itu tidak akan membahayakannya.”

  1. Bahasa Arab adalah bahasa al-Quran. Untuk itu, diperlukan penguasaaan bahasa Arab dengan baik, agar dapat memahami dan mendalami kandungan ayat-ayat al-Quran.
  2. Al-Quran bukanlah sebuah kitab yang semata-mata untuk dibaca dan bertabarruk, akan tetapi ia adalah kitab yang membimbing manusia untuk meningkatkan akal dan daya
  3. Tokoh-tokoh sejarah yang nyata perlu dipekernalkan menjadi teladan positif bagi manusia.
  4. Kisah yang dikutip al-Quran benar-benar pernah terjadi. Karena disampaikan oleh Allah yang Makna pikirnya

 

Penulis: Badriyah (Dirasat Islamiyah 2015-UIN Jakarta, Haiah Tahfizh)
Pengoreksi: Ustzh. Siti Husniah Rahmawati, S.Th.I (Tafsir Hadits 2010-UIN Jakarta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *